Jumat, 16 Maret 2012

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab; Antara Cita dan Fakta



Oleh: Mohammad Hafidz Anshory
"Harga diri manusia terletak pada adab dan prilakunya. Bukan pada ketampanan, hiasan dan bajunya" ( sastrawan arab )
Butir kedua pancasila diatas sengaja saya jadikan judul dalam artikel ini setelah saya melakukan pemantauan dan pembacaan terhadap  ribuan-ribuan kejadian yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan-tindakan yang bermoral, adil dan beradab dalam berbangsa dan bernegara. Kejadian-kejadian dimaksud  tampil jelas dinegeri kita Indonesia mulai semenjak saya masih di Sekolah Dasar sampai sekarang. Terbukti, berapa banyak pelecehan seksual, berapa banyak pertengkaran, berapa banyak korupsi, berapa banyak narkotika dan minuman keras yang disalah gunakan, berapa banyak pembunuhan dan ribuan tindakan-tindakan amoral lainnya yang dalam setiap harinya kita lihat dan kita temukan. Pelaku dari semua hal itu adalah anak-anak bangsa kita, baik pelajar, siswa, mahasiswa, guru, petani, pedagang, pengangguran dan pejabat Negara sekalipun.
Kemudian setelah saya merenungi kondisi yang sangat memperihatinkan seperti diatas, saya selalu bertanya-tanya dalam benak saya, dimanakah wujud dan praktek nyata dari butir kedua pancasila yang merupakan dasar dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta indonesia? Apakah butir kedua itu sudah tidak layak dijadikan pandangan hidup berbangsa dan bernegara, atau apakah anak-anak bangsanya yang sudah terpengaruh dengan dunia barat yang selalu mengagungkan kebebasan tiada batas sehingga tidak ada lagi moral dan adab yang harus mengikat hidup mereka? Dimanakah bentuk keperihatinan dan langkah-langkah kongkrit pemerintah dan para pejuang lainnya untuk meminimalisir tindakan-tindakan amoral tersebut? Dan dimanakah tanggung jawab mereka sebagai pihak yang berkuasa memegang kendali atas perjalanan nergeri ini untuk menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang harmonis, tentram dan penuh kedamaian?
Kemanusiaan yang adil dan beradab dijadikan sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara yang kemudian disetujui untuk menempati urutan kedua dari dasar Negara yang tertuang dalam Pancasila tentunya memiliki tujuan baik dan keinginan yang sangat kuat untuk menciptakan kedamain, menebarkan keharmonisan, menampilkan ketentraman dan menjadikan manusia yang bermartabat dalam berbangsa dan bernegara.
Tujuan dan keinginan dimaksud dapat kita temukan dan dapatkan dalam pendahuluan Buku Pancasila yang disusun oleh LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERNEGARA (LPPKB), yang mana buku itu menyebutkan tentang semangat para founding fathers untuk menghendaki Pancasila sebagai dasar pengelolaan kehidupan bermasyarakat, ber-bangsa dan bernegara guna mewujudkan masyarakat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (Buku Pancasila oleh LPPKB)
 Hal itu juga senada dengan pernyatan Mr. Moh. Yamin tentang pancasila yang disampaikan di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945 yang mana pancasila menurut beliau  adalah prikebangsaan, prikemanusiaan priketuhanan, prikerakyatan dan   kesejahteraan rakyat.(www.wordpress.com)
Jika kita meneliti dengan seksama maksud dan tujuan para founding fathers dan  kelima poin pernyataan Mr. Moh. Yamin diatas maka, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa semua itu adalah buah dan tujuan dari kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena sesungguhnya manusia jika sudah beradab maka ia akan tahu dirinya, tahu Tuhannya, tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya, berlaku adil, selalu menampilkan tindakan-tindakan yang bermoral, tidak akan pernah mengganggu sesasamanya dan tidak akan melakukan kerusakan dimuka bumi.
Namun dari berbagai tragedi amoral yang terjadi dalam ke setiap harinya ternyata negeri kita tercinta Indonesia masih belum dikatakan sebagai Negara yang anak bangsanya telah berkemanusiaan yang adil dan beradab. Mereka masih jauh dari nilai-nilai luhur pancasila sebagai dasar dan ideologi berbangsa dan bernegara, sehingga keharmonisan, ketentraman, dan kedamaian masih saja enggan tampil menghiasi wajah tanah air kita.
Kesimpulan saya didukung dan dikuatkan oleh pernyataan aktivis INSIST saudari mbak Anita Syaharudin dalam artikelnya yang berjudul: Pendidikan Karakter: Apa Lagi? Beliau menuturkan bahwa negeri kita indonesia dengan banyaknya berbagai macam peristiwa yang mempertanyakan moral atau karakter bangsa Indonesia, seperti Media TV nyaris tiap hari diserbu tayangan-tayangan kekerasan, terbongkarnya manipulasi pajak  seorang pegawai golongan rendah bernilai puluhan milyar rupiah yang membelalakkan mata banyak orang, berita pelesiran sejumlah wakil rakyat “yang terhormat” dengan menghambur-hamburkan uang rakyat, kasus video porno tiga orang artis  terkenal dan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja, penyalahgunaan narkotika dan data tentang korupsi pejabat misalnya, dari hasil riset yang dilakukan dalam Transparency International Corruption Perceptions Index 2009, masih menempatkan Indonesia pada peringkat yang sangat memperihatinkan dan masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang adil, beradab dan bermoral. (www.insistnet.com)
******************
Pentingya kemanusiaan yang adil dan beradab dalam berbangsa dan bernegara
Diutusnya Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam adalah bukti yang sangat kuat pentingnya kemanusiaan yang adil dan beradab. Beliau datang dengan sejumlah ajarannya ditengah-tengah kondisi penguasa dan bangsa yang penuh dengan kegelapan dan kejahiliyahan untuk membentuk manusia yang beradab, tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya, tahu dirinya, tahu Tuhannya, tahu mana yang haq dan mana yang batil. Karena dengan menjadikan mereka manusia yang beradab maka tentunya kerusakan, perkelahian, kegelapan dan berbagai macam tindakan yang tidak bermoral lainnya akan musnah dan tenggelam tergantikan dengan ketentraman, keharmonisan, keadilan dan kedamain.
Abul Hasan al-Nadawy menuturkan dalam magnum opusnya al-Sirah al-Nabawiyah tentang kondisi penguasa dan masyarakat makkah pada abad ke enam masehi pada saat Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam diutus. Beliau menegaskan kondisi makkah pada saat itu sangat memprihatinkan disebabkan moral penguasa dan masyarakat sudah tak mencerminkan sebagai manusia yang beradab dan bermartabat. Perjudian, minuman keras, pelecahan seksual, perzinahan, kedengkian, kedzoliman, kekerasan, pencurian, perampokan dan berbagai tindakan amoral lainnya menjadi kebanggaan mereka.
Beliau menguatkan pendapatnya dengan penyataan putra makkah Jakfar bin Abi Thalib didepan raja Najasyi tentang bejatnya moral dan kehidupan masyarakat jazirah arabiyah secara umum dan masyarakat makkah secara khusus, yang isinya adalah sebagai berikut: "wahai raja! Kami kaum jahiliyah; menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan pelecehan seksual, memutuskan silaturrahim, selalu menteror tetangga, melakukan kekerasan terhadap kaum lemah dan menjadikan kaum lemah sebagai budak yang tidak berprikemanusiaan".
Begitulah gambaran kondisi moral bangsa dan negara makkah pada pada abad ke enam masehi yang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, sehingga diutuslah Nabi Muhammad bin abdillah shollallahu alaihi wa sallam dengan membawa risalah kenabian untuk menjadikan mereka manusia yang adil dan beradab.
Dari sana kita dapat memetik hal penting yaitu bahwa inti dari risalah kenabian Nabi Muhammad bin abdillah shollallahu alaihi wa sallam adalah menjadikan manusia yang adil dan beradab  yang tahu meletakkan sesuatu pada tempatnya, yang tahu dirinya dan tahu Tuhannya. Dan dari sana juga kita dapat mengetahui dan menjangkau betapa sangat pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dalam berbangsa dan bernegara hingga menjadi jalan awal yang tidak boleh tidak harus dilalui untuk menuju kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian suatu bangsa dan negara.
Nah, berangkat dari keterpurukan moral anak bangsa dan Negara kita saat ini dan juga berdasarkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan jalan utama menuju kemakmuran, keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian maka saatnya kita semua khususnya pemerintah, para pejuang pendidikan, para pemuka agama dan orang tua untuk berjuang membebaskan anak bangsa kita dari karakter-karakter yang tidak bermoral dan tidak berprikemanusiaan dan menggantikan dengan karakter-krakter yang berprikemanusiaan yang adil dan beradab, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan misi utama diutusnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yaitu menjadikan manusia yang adil beradab di negeri kita tercinta ini dan jangan cuma korupsi saja yang diberantas tapi nilai-nilai yang tidak bermoral yang sedang meliputi anak bangsa kita juga harus diberantas tuntas ke akar akarnya, agar negeri kita menjadi negeri yang sakinah, mawaddah, rohmah, thoyyibah wa Robbun ghafuur. Wallahu a'lam    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar